-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan HUT RI 81

Iklan

Banner hut 81

Iklan HUT RI 81

Tag Terpopuler

Pemanasan Global, Gletser Himalaya, dan Ancaman Banjir Nepal

Kamis, 27 Agustus 2026 , 09.19 WIB Last Updated 2026-08-27T06:15:18Z



NEPAL -  Di tengah kenaikan suhu global yang semakin mengkhawatirkan, gletser di Pegunungan Himalaya menjadi sumber ancaman serius bagi penduduk Nepal dan wilayah Tibet, Tiongkok. Peristiwa longsoran gletser pada 26 Agustus lalu memicu banjir bandang yang menewaskan ratusan orang atau membuat mereka hilang.

Banjir ini bermula dari runtuhnya bagian gletser di Distrik Rasuwa, Nepal, yang terletak di lereng Himalaya dekat perbatasan dengan Tibet, Tiongkok. Material es, batu, dan sedimen yang terlepas kemudian masuk ke Sungai Lhende dan memicu banjir bandang yang menyebar hingga ke Gyirong, Tibet.

Awalnya, runtuhnya gletser diduga disebabkan oleh gempa bumi. Namun, analisis terbaru dari United States Geological Survey (USGS) menunjukkan bahwa gempa justru terjadi akibat longsoran gletser tersebut. Banyak video yang beredar menampilkan momen-momen mengerikan ketika air bah melaju kencang dan menghancurkan bangunan, manusia, serta kendaraan.

Selain risiko longsoran gletser langsung, daerah Nepal-Tibet juga menghadapi ancaman banjir akibat pelepasan air dari danau glasial, yang dikenal sebagai Glacial Lake Outburst Flood (GLOF). Danau glasial dapat terbentuk atau membesar akibat pencairan gletser.

Menurut publikasi UNDP tahun 2025, terdapat 47 danau glasial di Nepal yang dikategorikan berpotensi membahayakan. Sejak 1970-an, Nepal telah mengalami 26 kejadian GLOF. Risiko ini diperkirakan akan meningkat, baik dalam frekuensi maupun intensitasnya, seiring perubahan iklim yang semakin ekstrem.

"GLOF dapat memicu banjir besar, longsor, dan aliran lumpur yang mengancam kehidupan, infrastruktur, pertanian, pariwisata, dan pembangkit listrik tenaga air," tulis UNDP dalam situs resmi mereka.

Baru-baru ini, banjir yang diduga disebabkan oleh pecahnya danau glasial terjadi pada 8 Juli 2025. Banjir ini menghancurkan jembatan penghubung antara Nepal dan Tiongkok, sehingga mengganggu perdagangan lintas negara. Setidaknya 11 orang tewas dan 18 orang hilang akibat kejadian ini.

Untuk mengurangi risiko serupa, Nepal menjalankan proyek baru dengan dukungan pendanaan sebesar US$36 juta dari Green Climate Fund (GCF). Proyek ini mencakup beberapa langkah penting, seperti:

  • Penurunan ketinggian air di empat danau glasial prioritas untuk mengurangi tekanan pada danau tersebut.
  • Pembangunan sistem peringatan dini yang lebih efektif agar masyarakat bisa segera bereaksi saat terjadi ancaman.
  • Penerapan solusi berbasis ekologi untuk melindungi ekosistem pegunungan dan masyarakat di wilayah hilir.

Dengan proyek ini, pemerintah Nepal berharap bisa mengurangi dampak bencana yang disebabkan oleh perubahan iklim dan melemahnya gletser. Namun, tantangan tetap besar, mengingat perubahan iklim terus berlangsung dan risiko GLOF akan semakin tinggi di masa depan.

×
Berita Terbaru Update